Art & Culture

BEDHAYAN URO-URO

JakartaARSNewsy, –

Uro-uro, istilah dalam bahasa Jawa yang artinya tembang atau senandung. Suatu kebiasaan orang tua pada jaman dulu untuk menyenandungkan sebuah nyanyian kedamaian karena suasana hati dan pikiran yang tenteram.

Uro-uro kerap pula dipakai untuk menyenandungkan tembang kasih saat orang tua menidurkan anaknya. Suatu kebiasaan yang jarang ditemui pada jaman now. Kehadiran digital musik dengan perangkat yang serba canggih, disadari maupun tidak telah menggantikan peran tersebut.

Padahal makna pencarian hidup di dunia dapat tercapai ketika masih tertanam rasa dalam dada. Rasa yang dimaksud meliputi rasa senang, sedih, marah, jengkel, gembira termasuk rasa bersalah. Dengan adanya rasa maka akan membuat kita selalu bersyukur terhadap Sang Maha Pencipta.

Bedhayan Uro-Uro mencerminkan suka cita dan rasa bahagia setelah seseorang berhasil menghadapi tantangan hidup terutama keberhasilan dalam memerangi hawa nafsu yang bersemayam dalam jiwa.

Suasana batin seperti itulah yang coba dipersonifikasikan Dewi Sulastri dalam tarian bedhaya-bedhayaan tersebut. Ingat bahwa bedhayan itu sendiri merupakan pengembangan tarian bedhaya dengan tema dan ceritera yang beragam. Maka munculah kata “bedhayan”.

Buah cipta Dewi Sulastri tersebut dipagelarkan dalam balutan gending Jawa yang ditata Antonius Wahyudi Sutrisno dan Dedek Gamelan Orchestra dan dipersembahkan Jaya Suprana School of Performing Arts di bawah pimpinan Aylawati Sarwono pada Festival Bedhayan 2019 di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (23/6) lalu. Tampil sebagai penari Aylawati Sarwono, Shari Semesta, Reny Ajeng, Theresia Rini Indriaswari, Santi Peters, Sheilla Erlangga, Ria W Glenn, Olivia Robertson, Lila Noviastantri.

(#mengembangkanwarisankebudayaannusantara. Teks & Foto: Sapto/Wils Productions. Sumber materi: Laskar Indonesia Pusaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *