Community

KH. YUSFADILLAH, WAKETUM III BAMUS BETAWI : PERSATUAN BAMUS BEGITU DAHSYATNYA, TAPI PERPECAHAN BETAPA MENYEDIHKAN 

JakartaARSNewsy,-

Di dalam doa yang kita panjatkan, bagaimana orang Betawi itu di kasih brand semacam pemikiran yang selalu merujuk bagaimana kita bersatu. Kita tidak bisa bayangkan persatuan Bamus itu begitu dahsyatnya, tapi kalau melihat sebuah perpecahan maka betapa menyedihkannya. Karena banyak orang ingin orang Betawi tidak kompak dan tidak bersatu, demikian ditegaskan KH. Yusfadillah, saat ditemui di Sekretariat Bamus Betawi untuk melihat bagaimana pandangannya terhadap situasi dan kondisi Bamus Betawi saat ini.

Memang diakui tokoh Betawi satu ini, bahwa saat ini persoalan yang paling mendasar yang dihadapi orang Betawi adalah perbedaan. Jika persoalan perbedaan semacam ini berkelanjutan maka imej orang Betawi akan berdampak luas ke segala bidang.

Oleh karenanya, papar KH. Yusfadillah, kita semua pada akhirnya melihat ini ada kepentingan bukan hanya sekedar hal tersebut. Jadi sebenarnya apa yang di perebutkan kalau kita bandingkan dengan kehebatan keluhuran orang Betawi sangat jauh panggang dari api. Orang Betawi itu harus Tabayun (Bersatu) karena rujukan orang Betawi keagamaannya, apapun sulitnya persoalannya tersebut.

“Sebenarnya perbedaan ini, muaranya ada dalam tataran para tokohnya. Jika para tokohnya mendapatkan hidayah betapa pentingnya bersatu bagi orang Betawi, maka perbedaan ini sangat mudah diselesaikannya. Apalagi penyelesaiannya bukan dalam konteks sharing power. Tapi lebih pada mengajarkan dan mengajak untuk Tabayun semata. Jadi sebagai orang Betawi kalau dengan orang tua atau orang yang dituakan maka kita lebih hormat dan takut. Kalau sudah perintah dari orang tua kita di panggil untuk guyub, rempug atau kumpul, maka pasti kita akan datang kumpul, guyub, rempug,” ungkap KH. Yusfadillah.

Dengan kata lain, seharusnya para orang tua ada yang secara moral berani mengajak Tabayun ini. Ibaratnya, lanjut KH. Yusfadillah, jika raja-raja nya duduk bareng membuang semua kepentian pribadi kemudian yang terfikirkan hanya satu harus islah, maka dijamin pasti selesai. Kita harus mempunyai kesadaran bahwa Betawi itu masih utuh sebagai pemilik bangsa ini. Sehingga kita memahami pada sisi mana kehancuran ini muncul. Bagaimana imej di luar menyatakan bahwa Betawi ada dua, ini imej yang sangat mengerikan. Padahal  sebenarnya Betawi itu hanya ada satu. Tidak boleh ada dua Betawi. Apalagi dengan logo atau lambang yang hampir hampir mirip itu.

“Kita lihat filosofi dari lidi menjadi sapu lidi, sehingga dapat digunakan untuk menyapu. Dan kalau kita serok akan mendapat banyak. Tapi jika hanya satu lidi apa yang bisa kita serok. Jadi sebenarnya tidak ada pilihan lain selain bersatu bagi orang orang Betawi. Islah bukan berarti sharing power atau jabatan tetapi rasa persatuan yang dikedepankan,” pungkasnya.

(ist; foto dok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *