Community

INDONESIA VAPER MOVEMENT 2019 KARENA MASYARAKAT BERHAK TAHU “BERIKAN VAPE KESEMPATAN, PAHAMI SEBELUM HAKIMI”

JakartaARSNewsy-, Indonesia Vaper Movement 2019 sebuah acara yang khusus ditujukan untuk publik, yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan Vape: para komunitas, asosiasi, influencer Vape, pemerhati kesehatan dan regulator dan digelar untuk pertama kalinya. Acara ini mengupas tuntas segala aspek tentang Vape, sehingga masyarakat umum mendapatkan gambaran informasi menyeluruh.

Riqi Habibie Putra Ketua Panitia Vaper Movement 2019

Riqi Habibie Putra Ketua Panitia Vaper Movement 2019 mengatakan bahwa kita membikin sebuah gebrakan acara di Indonesia Vape Movement 2019 ini dengan konsep Dari Vapers kepada Non Vapers. Mereka berkumpul dan membuka diri kepada masyarakat umum agar bisa bertemu langsung dan memberikan informasi yang sebenar-benarnya, sehingga masyarakat itu tidak takut lagi. Karena informasi-informasi yang beredar tentang Vape masih kurang seimbang. Bahkan sebagai contoh di keluarganya sendiri selalu mengingatkan untuk berhati-hati dengan Vape karena di USA 39 orang meninggal karena Vape, jadi hal itu membuatnya kaget.

“Jadi penyelenggaraan acara ini, adalah ingin membangun pemahaman dan stigma positif tentang vape. Menyebarkan hal positif dan baik tentang Vape, menepis segala keraguan dan tudingan miring tentang Vape”, jelas Rifqi Habibie Putra yang juga Pendiri Komunitas Vape Indonesia, yang memiliki jejaring hingga lebih dari 250 ribu orang, tersebar di seluruh Indonesia di One Belpark Mall Jl. RS. Fatmawati Raya, Minggu (15/12).

Acara yang mengusung tema “Berikan Vape kesempatan, Pahami Sebelum Hakimi!” dimana tidak hanya kalangan pengguna dan para pemangku kepentingan yang sudah familiar dengan Vape, tapi juga menyasar kalangan masyarakat umum untuk dapat menikmati acara ini. Kegiatan ini dikemas dengan aneka hiburan menarik, menghadirkan musisi Ipang, dan influencer Vape.

Selain itu, juga menghadirkan sesi sharing para komunitas Vape yang melakukan edukasi lengkap seputar Vape, dari segi industri, regulasi, aspek kesehatan, aspek keamanan, serta potensi besar industri Vape. Acara ini melibatkan seluruh asosiasi industri Vape di Indonesia yaitu; APVI, AVI, AVB, dan APEM. Ada sekitar lebih dari 25 komunitas Vaper dari seluruh Indonesia yang turut hadir, antara lain; Vape Indonesia, IMVS, Hexohm, Therion Indonesia, dan masih banyak lagi. Tak kalah, hadir juga kurang lebih sekitar 20-an influencer terkemuka di dunia Vape, mereka adalah pe-review Vape yang sudah termasyhur dikalangan pecinta Vape; seperti Arief Arisan, Fatrio, Renata, Nadine, Debora Chen, Vaperstuff dan banyak lagi.

I Gede Agus Maha, Pendiri dan Ketua Asosiasi Vape Bali

Data yang dilansir dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, juga menjelaskan bahwa, kontribusi dari cukai tahun ini mencapai sekitar Rp 800 Milyar, dan diperkirakan akan meningkat di tahun depan. Hal ini karena mayoritas industri Vape sudah patuh aturan, dan berkontribusi besar dengan tarif cukai Vape yang saat ini mencapai 57 persen. Menurut Bea Cukai, potensi penerimaan cukai dari Vape dapat mencapai Rp. 541,3 Milyar. Industri Vape telah memperkerjakan hingga 50 ribu orang di sektor ini dan hingga November 2019, telah tedapat 209 pabrik di berbagai wilayah Indonesia.

“Secara ekonomi, keberadaan industri Vape dalam skala mikro telah banyak membantu para pengusaha UKM khususnya di Bali, baik dalam meningkatkan taraf ekonomi maupun menciptakan lapangan pekerjaan baru, tentunya ini adalah hal positif yang hadir bersamaan dengan tumbuhnya Vape di Indonesia”, ujar I Gede Agus Maha, mewakili Asosiasi Vape Bali.

Dalam acara Indonesia Vaper Movement 2019, Prof. Dr. Achmad Syawqie Yazid, Pendiri Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) mengatakan bahwa, Rokok Elektik (Vape) merupakan perangkat simulasi merokok lewat hisapan uap nikotin. Didalam liquid Vape biasanya terdiri dari Propilen glikol, gliserin, dan perasa. Penelitian tentang kandungan kimiawi cairan dan uap rokok elektrik menemukan kontaminan dalam skala rendah dengan level yang jauh dibawah asap rokok biasa. Namun pengukuran risiko tidak hanya ditentukan oleh kandungan semata, tetapi juga oleh faktor lama waktu pemaparan.

Vapers at Indonesia Vaper Movement 2019

Kelompok Vapers pada umumnya menggunakan Vape sebagai substitusi total dari rokok konvensional. alasannya menggunakan Vape sebagian besar karena tidak berbau dan dapat mengurangi asupan nikotin. Kelompok perokok konvensional mengetahui bahwa resiko kesehatan sangat terkait erat dengan merokok. Walaupun mereka mengetahui dampak rokok terhadap kesehatan namun masih sedikit yang berupaya memiliki perencanaan untuk berhenti merokok atau beralih kepada Vape sebagai substitusi dari rokok konvensional.

Dari persfektif ini tampaknya Vape merupakan alternatif yang lebih aman bagi perokok yang tidak mampu menghentikan kecanduan nikotin, serta bisa menjadi “kerangka kerja” upaya penurunan bahaya rokok tanpa menghilangkan kebiasaan merokok. Media serupa terbukti berhasil di masa lalu, misalnya pemakaian jarum disposabel pada pengguna narkoba dan promosi seks aman melalui proteksi kondom dalam mencegah penyebaran infeksi HIV

Kelompok non perokok berpendapat bahwa baik Vape maupun rokok konvensional memiliki resiko yang kurang baik sama terhadap kesehatan. kelompok ini pada umumnya tidak menyetujui adanya iklan untuk Vape serta tidak menyetujui tentang aturan di bolehkannya menggunakan Vape di tempat-tempat yang dilarang merokok. Menurut kelompok ini, Vape hampir memiliki bahaya yang sama dengan rokok konvensional.

Prof. Dr. Achmad Syawqie Yazid, Pendiri Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP)

“Walaupun dibandingkan dengan rokok penggunaan Vape lebih aman, namun belum tersedianya evaluasi klinis yang menyeluruh serta pengawasan jangka panjang dari pemakain pada populasi, maka Vape belum dapat dijamin sebagai sebuah produk yang mutlak aman. Sebaliknya bahaya dari menghisap rokok telah dapat ditentukan secara nyata. Sebagian besar tetapi tidak semua Vape mengandung nikotin. Bahaya dari merokok terutama disebabkan oleh menghirup racun dalam asap rokok bukan karena nikotin tembakau. Meskipun demikian tampaknya diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap dampak jangka panjang dari Vape, sebelum Vape dapat dikatakan sepenuhnya merupakan sebuah produk yang aman”, jelas Prof. Dr. Achmad Syawqie Yazid. (lela; foto tcs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *