Art & Culture

GUNUNG KEMUKUS KISAH DIBALIK KIRAB PENCUCIAN KELAMBU MAKAM PANGERAN SAMUDRO

SragenARSNewsy-, Gunung Kemukus berada di Desa Pendem Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, banyak menyimpan cerita rakyat serta adat budayanya hingga ke anak cucu yang luarbiasa.,

Juru Kunci Gunung Kemukus M. SuparnoSalah satunya, seperti kisah Dewi Ontrowulan yangbmenjalin asmara dengan Pangeran Samudro anak tirinya. Berdasarkan cerita itulah sehingga bagi pelaku ritual di Gunung Kemukus, harus melakoni 7 kali ritual hubungan seks secara berturut turut dengan orang yang bukan pasangan resminya. Tentu terasa sangat tidak lazim. Lantas bagaimana sesungguhnya hal itu bisa terjadi, kami mencoba menelisiknya secara fisik dan metafisik.

Kami kemudian bersama Pengolala Gunung Kemukus serta Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata telah melaksanakan kegiatan prosesi Kirab Pencucian Kelambu Makam Pangeran Samudro, secara khidmat terkoordinasi sesuai protokol covid19.

Prosesi diawali kirab barisan terdepan duta wisata Sukowati Lailatul Lufiah dan Sabar Nur Sidiq membawakan cengkir degan, dalam sanepan Jasa, yang bermakna kenceng ing pikir yakni memiliki filosofi budaya kekuatan dan kecermatan pikir.

Selain hadir bunga tabur yang menggambarkan penghormatan bagi para leluhur pendahulu kita, serta mengingatkan agar dalam menjalani hidup ini senantiasa ambabar gondo arum, menebarkan aroma wangi, yakni melakukan darma baik sebanyak mungkin kepada sesama.

Dan prosesi kirab sendiri menggambarkan perjalanan hidup, bahwa setiap orang akan melewati suka dan  duka, perlu dijadikan guru sejati untui mengarungi samudra kehidupan yang lebih baik. Dan pencucian kelambu adalah simbol bahwa kita harus mensucikan lahir dan batin sebagai upaya mendekatkan diri kepada Illahi.

Selanjutnya, air bekas jamasan, dibagikan kepada semua orang yang membutuhkan,yang dimaknai bahwa urip kudu murup, artinya hidup kita harus selalu bermanfaat bagi sesama.

Peraga kirabnya pun terdiri dari prajurit, pembawa uborampe dan seorang pemimpin. Sebagai penggambaran bahwa dalam kehidupan ini, setiap orang  punya peranan masing masing, saling menghormati saling mengisi, agar dapat bersinergi dalam meraih tujuan yang mulia.

Payung Agung Susun ping Telu, menggambarkan tataran kehidupan, kematian, dan amuksa sebagai wujud anugrah kemuliaan atau syurga. Sedangkan neroko  latu pangresikan, atau sebagai proses pembersihan. Tumpeng Megono artinya sak merga mergane ono, artinya selalu mendapatkan kemudahan dalam situasi apapun.

Sekul Gurih menjadi Uborampe Jangkep, yang berfungsi untuk menyempurnakam rangkaian upacara, sehingga upacara dapat berlangsung sinergis dan guyub. Pisang Sanggan dimaknai sebagai Sepi ing Sesanggan, seseorang akan menghadap Tuhan dalam kedamaian. Pisang Sanggan juga menyiratkan suatu pesan  untuk menanamkan semangat bergotong royong, dan saling membantu antar sesama. Sedangkan ingkung ayam sebagai bentuk pengorbanan dan rasa paseduluran yang nyata, demikian Juru kunci M. Suparno memaparkannya.

Gunung KemukusDan seperti diketahui pula, setiap 1 Suro menjadi prosesi rutin dari kirab pencucian Kelambu ini. Sekaligus di hari pasaran Jumat )on  diperingati sebagai hari wafatnya Pangeran Samudra dan Jumat Kliwon sebagai peringatan 7 hari setelah wafatnya beliau. Dihari itulah banyak pengunjung datang untuk Ziarah disamping hari hari biasanya.

Dalam spiritual Jawa, laku tirakat atau prihatin bermakna perih ing batin yakni upaya mengendalikan diri dari penguasaan hawa nafsu sangat lah bertentangan dengan laku tirakat yang sebenarnya. Dan bersama pelaku spiritual Jawa, Ki Sabdalangit, kami pun mencoba berkomunikasi langsung dengan Pangeran Samudra.

Pangeran Samudra adalah putra Raja Majapahit Prabu Brawijawa V yang dalam perjalanananya menimba Ilmu agama Islam pada saat kembali dari Gunung Lawu terhenti disana karena sakit hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

Ibu angkatnya yang bernama Nyai  Ontrowulan mendapati kenyataan pahit, ternyata putranda Pangeran Samudra diketemukan telah wafat. Nyai Ontrowulan merasa sangat terpukul, dalam kesedihan yang mendalam. Nyai Ontrowulan memilih untuk bersama putranda menghadap Gusti Kang Akaryo Jagad.

Peristiwa menyedihkan ini menggambarkan betapa sosok Nyai Ontrowulan, layaknya seorang Ibu penuh ketulusan dalam memberikan kasih sayang kepada putra angkatnya. Bahkan kasih sayang dan ketulusannya tak ubahnya seorang ibu kandung sendiri. Sebuah contoh kemuliaan hidup yang beliau sisipkan kepada setiap kaum perempuan.

Perempuan yang mampu mulat laku jantraning bumi, yakni menerapkan sifat sifat dari Ibu bumi Pertiwi ke dalam perilaku kehidupan sehari-harinya yang mampu memberikan kasih sayang dengan tulus bahkan mungkin melebihi seorang ibu kandung sendiri, menurut wedaran Ki Sabdalangit.

Kami pun berkomunikasi dengan beberapa pengunjung yang datang dari berbagai kota, terkait niat, tujuan dan serta tanggapan tentang cerita yang beredar di Gunung Kemukus nan indah ini.

Gunung Kemukus Bersama Drs I. Yusep Wahyudi, M.Si Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata, yang mempunyai misi sangat mulia berjuang membangun dan memperbaiki dari segala segi wisata Ziarah di Gunung Kemukus ini. Semoga dapat lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi di sini. Bersama-sama belajar menanamkan sikap penuh welas asih kepada sesama sebagaimana kisah hidup Nyai Ontrowulan dan Pangeran Samudra di masa lalu. (din; foto fit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *