Knowledge

PLASTIK BISA BANTU AKTIFITAS NORMAL BARU SELAMA PANDEMI COVID-19

JakartaARSNewsy-, Kendati dianggap sebagai salah satu biang polusi karena lama terurai di tanah, namun keberadaan plastik hingga saat ini belum dapat dipisahkan dari aktifitas dan kenyamanan manusia. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan adalah upaya berdamai dengan bahan ini dan memperlakukannya secara lebih tepat guna. Kondisi itu terasa kian perlu ditengah masa pandemi Covid-19 ini dimana keberadaannyba suka atau tidak masih sangat membantu untuk menjalani kehidupan normal baru. Selain itu, karena plastik adalah bagian dari kehidupan peradaban manusia modern, maka Gerakan melawan keberadaan plastik itu sama saja melawan peradaban.

Menurut Dosen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik-Universitas Indonesia (UI) Firdaus Ali, selama belum ditemukannya jenis material baru (pengganti plastik) yang bisa terurai dengan baik dan cepat oleh lingkungan, maka suka tidak suka kita harus bisa berdamai dengannya.

“Sebentar lagi vaksin Covid-19 yang membutuhkan temperatur rendah sekali (-16 derajat Celcius dan -20 derajat Celcius) untuk penyimpanannya. Ini butuh plastik yang fleksibilitasnya menyesuaikan dengan temperature”, jelas Firdaus Ali yang aktif di kegiatan sosial bersama kelompok Harmoni Indonesia saat berbicara kepada media di Jakarta, Sabtu (14/11/2020).

Menurutnya, pada masa pandemi Covid-19 ini, ada solusi lain yang bisa dilakukan terhadap benda ini yaitu lewat pendekatan circular economi, Firdaus Ali berpendapat pengelolaan sampah plastik ini punya keuntungan yang jauh lebih bernilai dibanding cara primitive.

“Ini bagian dari gerakan global untuk memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di rantai limbah plastik sehinga tidak membebani lingkungan, tidak mencemari lingkungan, dan membuka peluang ekonomi baru”, ujar Pendiri dan Ketua Indonesia Water Institute tersebut.

Firdaus Ali yang membuka presentasi webinar “Memperkuat Waste Management untuk Mendukung Circular Economy” yang diselenggarakan Sahabat Daur Ulang pada Selasa (10/11) menambahkan bahwa Melawan keberadaan plastik ini salah besar, karena plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan modern dengan beban populasi yang terus bertambah dengan signigikan. Plastik yang dibuang ke lingkungan, ya, itu salah. Tapi kalau kita lawan plastik sama saja melawan peradaban

Firdaus Ali juga mengingatkan jika Indonesia merupakan negara pembuang limbah plastik ke badan air nomor dua terbesar di dunia setelah China. Plastik menjadi masalah global akibat pengelolaan yang kurang baik, kemudian diperburuk dengan perilaku primitif manusia yang membuang plastik ke lingkungan, dan berakhir di badan air sampai ke lautan. Plastik ini membuat laut terkontaminasi dan terganggu  aktivitas dan keberlangsungan hidup biota laut.

“Yang salah bukan plastik. Tapi perilaku primitif kita yang membuang sampah dan limbah (plastik) tersebutlah yang sumber masalah dan bencana. Setiap kali hujan saya melihat di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, yang ditangani petugas Dinas Kebersihan DKI itu diantaranya adalah sampah plastik. Ini menunjukkan betapa primitifnya kita”, ujar Firdaus Ali.

Firdaus Ali menyebutkan persoalan komitmen politik dan fiskal menjadi penyebab penanganan plastik di perkotaan sehingga program “waste to energy” berjalan lambat. Padahal upaya pendekatan sudah ada melalui pembuatan regulasi dan insentif, tapi pelaksanaannya bergerak sangat lambat sementara akumulasi timbulan limbah bergerak cepat. “Jawaban simple karena tidak punya komitmen solid, politik dan apa lagi fiskal. Kita tidak menyadari bahwa menyelesaikan persoalan sampah dengan rantai kegiatan sama juga menyelesaikan persoalan perkotaan”, ungkapnya

“Plastik tidak akan mungkin kita lawan. Populasi yang semakin besar membutuhkan kenyaman dan ketersediaan kemasan dalam jumlah yang masif sekali dan tentunya ini tantangan bersama”, pungkas Firdaus Ali yang mendorong penelitian dengan memanfaatkan limbah plastik yang tidak bisa didaur ulang. (wem; foto dok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *