Knowledge

LAPORAN PERSELINGKUHAN RIFA HANDAYANI DENGAN TOKOH POLITIK BAK MENEPUK AIR DI DULANG TERPECIK MUKA SENDIRI

ARSNewsy-, Laporan atas adanya dugaan perselingku han antara Rifa Handayani dengan seorang Tokoh Politik, bak menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Dengan kata lain justru cenderung semakin mendapat antipati dari masyarakat.

Apalagi, dugaan perselingkuhan yang dilaporkannya sudah lama terjadi, yakni tahun 2013. Sehingga masyarakat mempertanyakan adanya motif tertentu dari Rifa Handayani, dimana pada 2013 itu, dia bekerja di sebuah perusahaan event-organizer tersebut.

Bahkan dikabarkan pula, Rifa Handayani dan keluarganya sudah menerima permintaan maaf, meski baru disampaikan setelah tiga tahun berselang yakni tahun 2016. Apalagi pelaporan tersebut kepada pihak kepolisian itu tidak lengkap alat buktinya. Sementara itu sudah ada permintaan maaf, terutama yang disampaikan kepada suaminya.

Tak heran bila, Wibowo Sudrajat Saputro, selaku pengamat dari Lembaga Pengkajian Politik dan Perilaku Manusia (LP3M) menduga kuat bahw pelaporan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya.

“Memang tidak menutup kemungkinan ada juga motif kekuasaan politik dari pelaporan Rifa Handayani tersebut. Dari 2013, 2016 dan sekarang 2021. Sangat jauh rentang waktunya. Jadi mengapa baru dilaporkan sekarang? Nah, kalau masyarakat menduga-duga Rifa Handayani memiliki motif jahat dari pelaporan tersebut, tentu harus dianggap wajar”, jelas Wibowo Sudrajat Saputro.

Sedangkan Widianti Fitriani dari Leadership Studies Institute, mengungkapkan bahwa apa yang dilaporkan Rifa Handayani justru membuka borok dan membuka aib keluarganya sendiri. Kalau dia merasa kecewa, emosi dan merasa dihantui masa lalunya, bahkan merasa keselamatannya terancam, dia cukup melaporkannya ke pihak kepolisian saja, tidak perlu di depan publik sekarang ini, terkesan ingin populer.

“Jadi ada kemungkinan Rifa Handayani juga memanfaatkan momentum keterbukaan masyarakat di mana berbagai peristiwa bisa dengan mudah diserap oleh masyarakat. Terutama yang berkaitan dengan posisi politik dari seorang pejabat negara atau tokoh terpandang”, lanjut Widianti Fitriani.

Widianti Fitriani pun mengingatkan bahwa kaum perempuan sekarang ini sudah semakin cerdas dan karenanya tidak mudah untuk menerima isu atau sesuatu yang kemudian dianggap hoaks. Jika hanya meminta berkenalan kemudian meminta nomor telepon, jangan pula langsung dianggap berlebihan.

“Artinya jika kemudian dilanjutkan dengan adanya komunikasi, kita bisa pertanyakan, sejauh mana komunikasi yang dilakukan? Nah, dalam konteks itu, saya bisa menerima pendapat masyarakat jika pelaporan dugaan perselingkuhan tersebut dilatar-belakangi motif tertentu, misalnya uang, politik dan lain-lain”, papar Widianti Fitriani lagi.

Terkait teori perselingkuhan, bahwa masyarakat sekarang ini sudah tidak yakin atau percaya lagi dengan stigma sekali selingkuh akan tetap selingkuh. Dalam konteks itu dia kembali mengingatkan bahwa kaum perempuan sekarang sudah semakin cerdas. (wem; foto dok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *